UGM Berbudaya : Lestarikan Budaya Melalui Pemakaian Baju Tradisional Nusantara

20 April 2017 | Admin UGM INDO
caption


                                                Oleh : Ahmad Rumawi

“Ajining raga saka busana”. Pepatah Jawa tersebut mencoba mengingatkan bahwa orang lain
akan menghormati kita sesuai pakaian yang kita gunakan. Bahkan sebagian masyarakat
mengatakan bahwa pakaian merupakan cara kita merepresentasikan emosi, dan kepribadian,
serta keingingan persepsi orang lain pada diri kita.

Sastra Nusantara yang sekarang berubah nama menjadi Sastra Jawa merupakan salah satu
Prodi yang ada di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Melalui namanya, Prodi
tersebut menjadi sarana seorang individu untuk mengetahui lebih banyak budaya yang ada
di Nusantara. Melalui nama itu pula banyak para mahasiswa asing dari luar negeri yang
berkeinginan mempelajari budaya Indonesia, mengambil salah satu atau beberapa mata
kuliah di prodi ini.

Lebih dari sekedar mempelajari tentang keanekaragaman budaya, Prodi ini mencontohkan
secara nyata melalui penggunaan busana Nusantara ketika berkuliah. Perubahan nama
Sastra Nusantara menjadi Sastra Jawa bukan berarti hanya adat Jawa saja yang dipelajari,
begitu pula pada pakaian adat yang dikenakan di kampus.

Pakaian adat Nusantara ini digunakan sebagai sarana mahasiswa menunjukkan identitas diri
pada khalayak. Agenda ini merupakan program dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ)
yang mewajibkan mahasiswanya menggunakan pakaian adat Nusantara setiap hari Kamis
minggu pertama tiap bulannya.

“Kita ini kan orang Indonesia, ya kita menunjukkan bahwa ini budaya kita, bukan hanya
budaya Jawa tapi semua budaya yang ada di Nusantara”. Ungkap Abigail, salah satu
mahasiswa Sastra Jawa yang juga menggunakan pakaian adat kraton.

Awalnya hanya program dari HMJ, namun mahasiswa mengapresiasi dengan
menggunakannya secara kompak. Bila Anda masuk ke FIB maka akan tampak begitu
mencolok perbedaan mahasiswa Sastra Jawa dibanding mahasiwa lainnya.
Ketika lainnya menggunakan pakaian kasual pada umumnya. Mahasiswa Sastra Jawa
dengan idealisnya menggunakan kebaya, seperti sedang ada upacara kraton di UGM.
Sebagian lainnya menggunakan pakaian adat Bali, seakan ada rombongan dari Bali yang
mengunjungi kampus.

Menurut Sri Ratna Sakti, ketua Prodi Sastra Jawa, pakaian adat yang dikenakan oleh
mahasiswa akan secara langsung mempengaruhi perilaku mahasiswanya sedikit demi sedikit.
“Yang awalnya menggunakan celana, sekarang menggunakan selendang, ketika berubah
menggunakan selendang otomatis mahasiswa tidak gampang untuk jegang kan mas”
tambahnya.

Ke depannya, tradisi ini akan terus dilakukan sebagai perwujudan secara nyata sebuah
program studi mengamalkan ilmu yang dipelajari di dalam perkuliahan. “Teladan yang
sesungguhnya bukan berasal dari kata-kata namun dari tindakan nyata”. Harapannya
mahasiswa beserta alamamaternya mampu terus menjungjung tinggi nilai-nilai luhur budaya
miliki Ibu Pertiwi di bumi Nusantara.

Kirim Komentar

Lastest News