Eksistensi Macapat dalam Bentuk Teater

26 April 2016 | Admin UGM INDO
caption

Dalam lingkungan masyarakat Jawa pasti mengenal tentang puisi-puisi khas Jawa yang bernama macapat. Setelah kehadiran berbagai jenis puisi asli Jawa semacam kakawin di era
 
Kadiri dan Singhasari, setelah itu disusul dengan kidung di era Majapahit maka yang paling mutakhir setelah itu ialah macapat. Sebuah sistem tembang puisi Jawa yang memiliki
 
metrum-metrum tertentu dalam penciptaannya. Kemunculan Mataram Islam dan eksistensinya yang sampai saat ini masih terjaga menjadi salah satu faktor yang membuat macapat
 
tetap ada dan di-uri-uri. Berbeda dengan nasib kakawin ataupun kidung yang kini tidak dicipta lagi oleh masyarakat Jawa. Sekarang, penggunaan, penciptaan dan tradisi penyalinan
 
naskah kakawin maupun kidung hanya dapat ditemui di pulau Bali.
 
Masyarakat Jawa menafsirkan bahwa sebelas tembang macapat adalah sebuah pengejewantahan dari siklus hidup setiap manusia. Penafsiran tersebut di dasarkan pada nama setiap
 
tembang yang memang memiliki karakternya sendiri-sendiri. Pada akhirnya, karena penafsiran yang dalam seperti itu menjadikan tembang macapat tetap eksis hingga saat ini.
 
Adapun tembang macapat dan penafsirannya ialah sebagai berikut.


1.  Maskumambang.  

     Manusia ketika dalam rahim seperti mas yang mengambang.


2.  Mijil.

     Kemunculan atau kelahiran manusia dari alam rahim ke alam dunia.


3.  Sinom.

     Masa muda manusia yang penuh dengan gairah serta rasa ingin tahu yang besar.


4.  Kinanthi.

     Waktu para muda mencari ilmu dan mencari kesejatian diri.


5.  Asmaradana.

     Ketika para pemuda menemukan cinta dibenaknya masing-masing, saling cinta.


6.  Gambuh.

     Saat merasa cocok dalam cinta, maka pemuda melangkah ke jenjang pernikahan


7.  Dhandanggula.

     Mengecap manisnya hidup dan tergenapi seluruh nikmat dunianya.


8.  Durma.

     Ketika telah cukup dunianya, maka harusnya di dermakan kepada sesama.


9.  Pangkur.

     Waktu ketika manusia sudah lanjut usia, menjauhi segala urusan dunia.


10.Megatruh.

     Terpisahnya roh dengan jisim untuk menuju Hyang Gusti.


11.Pocung.

    Manusia di-pocongi dan kembali pada dekapan tanah.

Impen-impen, merupakan wujud dari siklus manusia yang hakikatnya selalu berulang, dan dalam hidup, hukum karma memang berlaku. Banyak yang menolak tentang eksistensi
 
hukum karma, namun tak mampu memungkiri bahwa hukum sebab-akibat selalu berlaku. Demikian pula kehidupan mengenal tentang dua perkara. Ada kematian ada kehidupan,
 
ada baik ada buruk, ada hitam dan ada putih, selalu begitu seterusnya.
 
Teatrikal Macapat adalah sebuah jalan alternatif untuk lebih memahami kandungan makna setiap tembang macapat, sekaligus menjaga eksistensi macapat dengan metode baru.
 
Perform macapat yang selama ini terkesan kaku-baku membuat para generasi muda menjauhi puisi klasik Jawa yang penuh dengan pesona tersebut. Oleh karena itu, macapat
 
harus disuguhkan dengan wujud baru, yang meskipun baru namun tidak menyimpang dari keteraturan. Pada Impen-impen nanti akan dijumpai sebuah lingkaran yang selalu
 
berputar, seperti cakra Wisnu, putaran itu tidak akan pernah berhenti hingga Mahadewa berkehendak untuk memperbaharui segala kehidupan. Putaran itu akan terasa sama, namun
 
dengan jalan yang berbeda. Meskipun kesamaan tersebut terletak pada keberbedaan yang ada, namun tidak akan memunculkan kemungkinan untuk menolak siklus berputar
 
manusia. Sejak dahulu masyarakat Jawa adalah masyarakat yang mampu ngeli ning ora keli, mengikuti arus namun tidak ikut-ikutan. Karena kemampuan alamiah itulah,
 
masyarakat Jawa mampu eksis diantara gempuran faham-faham aneh-aneh yang seharusnya tidak perlu dikeluarkan dari mayat si pencetus faham itu. Impen-impen merupakan
 
tawaran, yang bisa ditolak ataupun diterima, terlepas dari keputusan itu, Impen-impen akan menjadi sebuah kejujuran yang mutlak !
 
Bertepatan dengan Hari Teater Dunia, maka teater Kamasutra yang berada dalam naungan prodi Sastra Jawa turut serta dalam pesta teater tersebut. Adapun pemaparan diatas
 
telah dipentaskan di Sala pada tanggal 01 April 2016, Taman Budaya jawa Tengah. Alhamdulillah telah terlaksana dengan lancar dan sukses.




Yogyakarta, 25 April 2016

Kirim Komentar

Lastest News